Surakarta – Kamis (05/03/2020) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jamiyyah Al-Qurra Wa Al-Huffazh (JQH) Al-Wustha telah menggelar agenda Seminar Nasional yang mengangkat tema “Hukuman Mati bagi Koruptor dalam Perspektif Al-Qur’an“. Dengan dipilihnya tema tersebut diharapkan mahasiswa dan masyarakat mangetahui bagaimana pandangan agama dan hukum mengenai tindak pidana korupsi. β€œKarena korupsi merupakan masalah yang serius apalagi ditingkat suatu negara yang hakikatnya mereka (Koruptor) mencuri uang rakyat yang setiap orang mempunyai hak untuk menikmatinya sebagai warga negara”, ungkap Saudara Miftahul Abror selaku ketua umum UKM JQH Al-Wustha.

Salah satu sasaran seminar ini adalah mahasiswa, karena mahasiswa merupakan salah satu penggerak kemajuan bangsa. Mahasiswa Islam utamanya, yang selain mempunyai pandangan terhadap ilmu-ilmu juga nilai keislaman. Acara Seminar Nasional ini diikuti oleh 350 peserta baik dari kalangan mahasiswa IAIN Surakarta maupun mahasiswa luar IAIN Surakarta.


Serangkaian acara diawali dengan pembukaan secara nonformal oleh hadroh Hammas JQH Al-Wustha. Kemudian dilanjutkan opening ceremony yang dibuka secara simbolik dengan pemukulan gong oleh Bapak Dr. Imam Makruf, S.Ag., M.Pd. selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Surakarta, di Gedung Graha (05/03). Dalam sambutannya terkait tema korupsi, beliau mengungkapkan bahwa korupsi merupakan hal yang sudah ada sejak zaman dahulu. Pada ajaran Islam, istilah korupsi tidak ditemukan, namun yang ada ialah nilai-nilai berupa mengambil hak orang lain bil bathil. Dalam hal ini perlu adanya memahami, mempelajari, dan mengamalkan Al-Quran yang jauh lebih utama daripada hanya sekedar membaca. Sehingga nilai kejujuran adalah kunci, nilai tanggung jawab dan amanah sebagai pokoknya yang didapat dalam mencegah tindakan korupsi. Beliau juga mengungkapkan bahwa Mahasiswa IAIN Surakarta adalah generasi kuat dan tangguh secara aqidah, moral dan akhlak, yang akan meneladani dan mengamalkan sifat Rasulullah saw. Jika itu diamalkan maka akan terhindar dari sifat-sifat yang tidak baik, termasuk korupsi. salah satu hal penting di kampus adalah bagaimana nilai-nilai spiritual tersebut seimbang dengan akademik, dan dalam hal itu terjadi pada UKM JQH Al-Wustha, yang tidak hanya akademik namun juga spiritual dengan amaliyahnya sehingga sifat Rasulullah saw dapat melekat pada UKM JQH Al-Wustha. Menjadi pribadi yang tidak hanya berilmu tetapi juga berdakwah, pungkasnya. Usai opening Ceremony, UKM JQH Al-Wustha menyuguhkan musik hadroh kontemporer kepada seluruh hadirin sebagai selingan sebelum memasuki sesi penyampaian materi.

Seminar nasional tersebut menghadirkan tiga narasumber terpercaya yaitu pertama, KPK RI yang diwakili oleh Bapak Erlangga Adikusumah yang menjabat sebagai Fungsional Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat. Kedua, Dr. Anis Masduqi, Lc., M.Si. Alumnus Al-Azhar Kairo & Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU DIY. Ketiga, Dr. H. Budijono, S.H., M.H. yang pernah menjabat sebagai Dosen Hukum dan Praktisi IAIN Surakarta, Jaksa Penuntut Umum (1989-2013), serta dipandu oleh moderator Bapak M. Endy Saputro, S.Th.I., MA yang merupakan dosen IAIN Surakarta.

Materi pertama disampaikan oleh Bapak Erlangga Adikusumah, beliau menyatakan bahwa kerugian yang diakibatkan dari korupsi yaitu: 1) Kerugian keuangan negara; 2) Biaya untuk melakukan pencegahan/perbaikan sistem; 3) Biaya untuk penindakan korupsi; 4) Biaya sosial yang ditanggung masyarakat. Sedangkan program pencegahan KPK yaitu: 1) Pelaporan gratifikasi, yang dimaksud yaitu pemberian hadiah yang tidak boleh terkait kewenangan atau jabatan; 2) Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN); 3) Konsupgah (koordinasi dan supervisi pencegahan korupsi; 4) Penelitian dan pengembangan; 5) Pendidikan anti korupsi. Menurutnya terkait tema dalam seminar ini, hukuman mati itu subjektif, hukuman mati boleh dilakukan tetapi tidak sebagai tujuan, tidak sebagai salah satu cara mencapai tujuan negara, dan bukan satu-satunya jalan sebagai efek jera.

Kemudian materi kedua disusul oleh Bapak Dr. Anis Masduqi, Lc., M.Si. Sebagai pengantar materi beliau menyampaikan bagaimana Islam / fiqih melihat tentang masalah-masalah aktual seperti korupsi. Beliau menyebutkan bahwa pada tahun 2015 di Jombang Jawa Timur, Ormas besar Islam di Indonesia yaitu NU (Nahdhatul Ulama) memutuskan tentang hukuman mati bagi korupsi dan pada waktu yang sama Ormas Muhammadiyah mendorong keputusan tersebut. Lanjutnya beliau menyampaikan macam hukuman dalam Al-Quran yang telah diterangkan di dalamnya secara eksplisit, yaitu 1) Hudud, jenis pelanggaran yang ada dalam Al-Quran serta hukuman sudah pasti bagi yang melakukannya; 2) Ghoiru Hudud, misalnya takzir yaitu hukuman yang dijatuhkan atas dasar kebijaksanaan hakim karena tidak terdapat dalam Al-Quran dan Hadits; 3) Qishosh, yaitu hukuman yang dikenakan kepada seseorang yang seimbang sesuai dengan perbuatan kejahatan yang ia lakukan. Seperti firman Allah swt:
ΩƒΩŽΨͺΩŽΨ¨Ω’Ω†ΩŽΨ§ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡ΩΩ…Ω’ ΩΩΩŠΩ‡ΩŽΨ§ Ψ£ΩŽΩ†Ω‘ΩŽ Ψ§Ω„Ω†Ω‘ΩŽΩΩ’Ψ³ΩŽ Ψ¨ΩΨ§Ω„Ω†Ω‘ΩŽΩΩ’Ψ³Ω ΩˆΩŽΨ§Ω„Ω’ΨΉΩŽΩŠΩ’Ω†ΩŽ Ψ¨ΩΨ§Ω„Ω’ΨΉΩŽΩŠΩ’Ω†Ω ΩˆΩŽΨ§Ω„Ω’Ψ£ΩŽΩ†ΩΩŽ Ψ¨ΩΨ§Ω„Ω’Ψ£ΩŽΩ†ΩΩ ΩˆΩŽΨ§Ω„Ω’Ψ£ΩΨ°ΩΩ†ΩŽ بِالْأُذُنِ ΩˆΩŽΨ§Ω„Ψ³Ω‘ΩΩ†Ω‘ΩŽ بِالسِّنِّ ΩˆΩŽΨ§Ω„Ω’Ψ¬ΩΨ±ΩΩˆΨ­ΩŽ Ω‚ΩΨ΅ΩŽΨ§Ψ΅ΩŒ ۚ ΩΩŽΩ…ΩŽΩ† ΨͺΩŽΨ΅ΩŽΨ―Ω‘ΩŽΩ‚ΩŽ بِهِ ΩΩŽΩ‡ΩΩˆΩŽ ΩƒΩŽΩΩ‘ΩŽΨ§Ψ±ΩŽΨ©ΩŒ Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ۚ ΩˆΩŽΩ…ΩŽΩ† Ω„Ω‘ΩŽΩ…Ω’ ΩŠΩŽΨ­Ω’ΩƒΩΩ… Ψ¨ΩΩ…ΩŽΨ§ Ψ£ΩŽΩ†Ψ²ΩŽΩ„ΩŽ Ψ§Ω„Ω„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΩΩŽΨ£ΩΩˆΩ„ΩŽΩ°Ψ¦ΩΩƒΩŽ هُمُ Ψ§Ω„ΨΈΩ‘ΩŽΨ§Ω„ΩΩ…ΩΩˆΩ†ΩŽ
Artinya: β€œDan Kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya. (al- Maidah: 45)
Adapun korupsi termasuk dalam ghoiru hudud yang berupa takzir, karena tidak dijelaskan secara detail terkait korupsi dalam Al-Quran dan As-Sunnah atau Hadits. Sehingga hukuman mati terhadap koruptor disesuaikan keadaan masyarakat dan kebijakan diserahkan kepada hakim.

Materi terakhir disampaikan oleh seorang ahli hukum, yaitu Dr. H. Budijono, S.H., M.H., menyebutkan beberapa undang-undang terkait korupsi salah satunya UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi), yang mengalami perubahan menjadi UU No. 21 Tahun 2001. Dapat disimpulkan bahwa secara undang-undang hukuman bagi koruptor maximal yaitu dipenjara seumur hidup, dipenjara 20 tahun dan paling ringan penjara 1 tahun. Adapun korupsi atau hukuman selainnya disesuaikan dengan tingkat besaran korupsi yang seseorang lakukan baik lamanya dipenjara maupun besaran denda yang harus dibayarkan.

Akhirnya Seminar Nasional berlangsung dengan lancar dan ditutup dengan sesi tanya jawab, pemberian kenang-kenangan serta pembagian doorprize kepada peserta. Dan diiringi dengan penampilan JQH Akustik.

(Siti Syafingatun)

Pemateri bersama moderator

Sambutan Bapak Dr. Imam Makruf, S.Ag., M.Pd. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga)
Hadroh Kontemporer UKM JQH Al Wustha
Peserta seminar
Bapak Erlangga Adikusumah (KPK RI) & Bapak M. Endy Saputro (Moderator).

Bapak Budijono (Praktisi Hukum) & Sdr. Miftahul Abror (Ketua Umum JQH Al Wustha)
Bapak Anis Masduqi (Alumnus Al Azhar) & Sdr. Fajar Heru (Kadiv. Tafsir)
Moderator & Sdr. Habib (Ketua Panitia)
Registrasi peserta
Jajaran Dosen Penasehat UKM JQH Al Wustha
Penasehat & Pembina UKM JQH Al Wustha
Panitia yang selalu ikhlas bekerja, selalu semangat dan tak pernah luntur senyum manisnya ^_^