NGAJI RAMADHAN ONLINE Mengupas permasalahan seputar haid bersama Ibu Nyai Hj. Ari Hikmawati, S.Ag., M.Pd

Dari kitab I’anatun Nisa Karangan Muhammad bin Abdul Qodir Bafadhil

Rabu, 13 Mei 2020

Membahas tentang macam-macam warna darah haid istihadhoh yang rumit


Macam-macam darah dipelajari agar dapat mensifati darah yang dikeluarkan oleh seorang perempuan yang mana dapat dikategorikan sebagai darah kuat atau lemah. Kategori ini mempunyai segi dari warna, bau dan kekentalanya.

Dari segi warna ada 5 macam dan sifatnya:
– hitam(kuat)
– merah (agak kuat)
– Merah kekuningan(lumayan kuat)
– Kuning (agak lemah)
– Keruh / butek (lemah sekali)
– Segi kekentalannya : kental atau cair
– Segi bau : bau atau tidak

Ketiga segi inilah yang harus diperhatikan oleh perempuan ketika mengeluarkan darah dan perlu untuk di catat bagi setiap perempuan.
Contoh:
a. perempuan hari pertama mengeluarkan darah merah dan hari ke-2 baru hitam, lah ini berarti darah hari ke-2 sifatnya lebih kuat daripada hari pertama.

b. perempuan hari ke-1 mengeluarkan darah hitam baru hari ke-2 terus merah, ini contoh yang mana pertama sudah mengeluarkan darah yang sifatnya kuat sekali.
Jadi dapat kita lihat bahwa dari satu perempuan dengan perempuan yang lain pasti berbeda dan memang ini sangat individu sifatnya, tetapi rata-rata kalau sudah butek atau keruh pasti itu berada di hari terakhir ketika haidz. Mengeluarkan darah dengan warna hitam, merah, kuning atau keruh disaat haid itu tidak menjadi problem dan yang terpenting 15 hari 15 malam, yang menjadi permasalahan adalah ketika istihadhoh maka harus mencatat darah yang dikeluarkan dan mensifatinya.

Contohnya:
Jika mengeluarkan darah merah tapi ada hitamnya berarti darah kuat.
Mengeluarkan darah hitam, berbau dan kental lebih kuat daripada hitam, tidak berbau dan kental.
Mengeluarkan darah merah, berbau dan kental lebih kuat daripada merah, berbau tetapi cuwer (tidak kental.

CARA MENGHUKUMI ISTIHADHOH
Sebelum menghukumi darah istihadhoh kita harus mengetahui tentang permasalahan darah ini yang menjadi penting karena ada darah yang dinamakan darah lemah.

Darah Lemah: adalah darah yang memiliki ciri lemah nya saja
Darah Kuat : adalah darah yang memiliki ciri kuat dan tercampur maka itu disebut darah yang kuat. Seperti : Darah yang merah ada seratnya hitam itu disebut darah hitam.
Darah yang merah kekuningan ada gambarnya gumpalannya darah merah, maka itu disebut darah merah.

Pengertian pengetahuan darah tersebut berguna untuk kita membahas tentang istihadoh, dimana istihadhah terjadi pada seseorang yang mengeluarkan darah lebih dari 15 hari 15 malam secara terus-menerus, maka disini yang disebut dengan secara bahasa berarti mili ( mengalir) kemudian secara istilah yaitu darah yang dikeluarkan dari farji perempuan diluar dari waktu haid dan waktu nifas.

Nah yang akan kita bahas disini adalah istihadhoh yang berat nanti ada beberapa istilah sebutan terhadap orang yang mengalami istihadah tersebut yaitu diantaranya ada 7 macam mustahadhoh (orang yang haid):

Mubtada’ah Mumayyizah.
Yaitu wanita yang baru pertama kali mengeluarkan darah haid dan langsung mengeluarkan darah lebih dari 15 hari, dan ia dapat membedakan antara yang kuat dan lemah serta perbedaan warna darah.

Dengan ketentuan memenuhi 4 syarat sebagai berikut:
a. darah yang kuat itu tidak kurang dari 24 jam paling sedikitnya haid. jadi syarat yang pertama darah yang kuat yang dikeluarkan itu tidak kurang dari 24 jam

b. darah kuat itu keluar tidak boleh dari 15 hari 15 malam di paling banyaknya haid tidak boleh melebihi darah kuat keluar dari 15 hari 15 malam.

c. darah yang lemah itu tidak kurang dari 15 hari 15 malam jadi harus lebih dari 15 hari 15 malam. Disyarat ini khusus bagi anak perempuan yang darahnya itu keluar terus darah kuat kemudian darah lemah kemudian darah kuat lagi, maka ini harus ada syarat darah lemahnya tidak kurang dari 15 hari 15 malam

d. antara darah kuat dan darah lemah itu tidak selang seling tidak boleh bergantian maksudnya bagi anak perempuan yang mengeluarkan darah terus menerus itu darah yang lemah yang selama 15 hari atau lebih itu tidak terpisah oleh darah yang kuat.

kalau empat syarat itu tidak terpenuhi maka nanti hukum yang digunakan tidak lagi ke mubtada’ah mumayyizah tetapi masuk ke pada Mubtada’ah ghairu mumayyizah.
Cara mandi :
Pertama-tama harus menunggu sampai 15 hari 15 malam dulu. Kemudian perempuan tersebut setelah mandi dia ada kewajiban men-qada’ shalat yang ditinggalkan selama mengeluarkan darah yang lemah.

Kemudian untuk bulan berikutnya kalau dia memang mengalami sirkulasinya seperti itu lagi maka caranya seorang tersebut bisa mandi sewaktu waktu.

Contoh dari kasus mubtadiah mumayyizah
– Seseorang tersebut mengeluarkan darah kuat 3 hari kemudian mengeluarkan darah lemah 27 hari. maka di sini karena dia mubtada’ah yang baru pertama kali haid mengeluarkan darah dan dia bisa menghukumi darah kuat dan darah lemah, maka yang 3 hari awal itu dihukumi haid karena darah dan yang 27 hari itu dihukumi darah Istihadoh karena darah lemah.

jadi semacam ini bukan kemudian dia mengambil 15 hari awal haid sisanya istihadoh bukan. Kemudian dia mandinya saat 15 hari 15 malam.

– Seorang perempuan mengeluarkan darah yang kuat 7 hari kemudian darah lemah 9 hari, maka yang 7 hari awal itu dihukumi haid dan yang 9 Hari akhir itu dihukumi istihadhoh.

– Perempuan mengeluarkan darah lemah 11 hari kemudian dia mengeluarkan darah kuat 12 hari. Maka 11 darah lemah tadi dihukumi darah istihadoh meskipun keluar di awal dan yang 12 hari itu dihukumi darah haid.

- Perempuan mengeluarkan darah lemah 5 hari kemudian dia mengeluarkan darah kuat 6darah yang kuat itu tidak kurang dari 24 jam paling sedikitnya haid. jadi syarat yang pertama darah yang kuat yang dikeluarkan itu tidak kurang dari 24 jam hari kemudian mengeluarkan darah yang lemah lagi 19 hari, maka hukumnya yang 5 hari pertama itu dihukum istihadoh dan yang 6 hari yang di tengah itu dihukumi darah haid kemudian yang 19 hari akhir itu dihukumi istihadoh lagi. Jadi ini memenuhi syarat meskipun selang-seling tetapi lemahnya itu tidak kurang dari 15 hari 15 malam, maka masih masuk kondisi Mubtada’ah mumayyizah.

- Perempuan mengeluarkan darah kuat 7 hari kemudian dia mengeluarkan darah lemah 15 hari, kemudian dia mengeluarkan darah kuat lagi 3 hari, maka hukumnya bagaimana hukumnya yang 7 hari awal dan yang 3 hari akhir karena semua kuat maka itu di hukumi darah haid dan yang 15 hari yang ada di tengah itu dihukumi istihadoh.

Jadi mubtadiah mumayyizah ini sebetulnya lebih mudah untuk mencari mana darah haid yaitu darah yang kuat dan mana darah istihadoh yaitu darah yang lemah.

Jadi mubtadiah mumayyizah ini sebetulnya lebih mudah untuk mencari mana darah haid yaitu darah yang kuat dan mana darah istihadoh yaitu darah yang lemah.

Mubtada’ah Ghairu Mumayyizah.
Yaitu wanita yang baru pertama kali mengeluarkan darah haid dan langsung mengeluarkan darah lebih dari 15 hari. Namun ia tidak dapat membedakan antara yang kuat dan lemah.

Ini nanti yang dihukumi darah haid itu hanya satu hari satu malam kemudian yang lainnya adalah dihukumi Darah istihadoh. Jadi yang dihukumi darah haid itu hanya satu hari satu malam yang pertama dihukumi suci itu 29 hari di setiap bulannya. Kalau dia mengeluarkan darah berbulan-bulan itu nanti hanya darah yang di hari pertama saja yang dihukum haid selanjutnya dihukumi darah istihadoh.

Cara mandi :
Untuk bulan pertama, Dia mandinya harus menunggu lengkap 15 hari 15 malam dan kemudian dia diwajibkan mengqadha salat yang 14 Hari 14 malam.
Untuk bulan-bulan berikutnya, mandinya tidak perlu menunggu 15 hari 15 malam, tetapi dia sudah cukup setelah 24 jam atau sehari semalam maka dia berkewajiban untuk mandi langsung dan dia langsung setelah mandi dia melakukan salat langsung tidak ada utang di situ karena sudah melakukan salat.

Mu’tadah mumayyizah.
Yaitu wanita istihadhoh yang pernah haid dan suci, serta mengerti dirinya mengeluarkan darah 2 macam atau lebih (lemah/kuat)

Sama seperti Mubtada’ah mumayyizah, yaitu yang kuat dihukumi darah haid dan yang lemah itu dihukumi darah istihadoh.
Syaratnya sama harus memenuhi empat syaratnya yang ada di mubtada’ah mumayyizah, kecuali kalau ada selisih darah lemahnya itu lebih dari 15 hari 15 malam, maka nanti ada perbedaan perhitungan karena dia pernah mempunyai kebiasaan haid jadi nanti dijumlahkan antara darah haid kebiasaannya itu dengan darah kuat yang dia keluarkan jumlahnya berapa, ini kalau antara keluarnya darah itu jaraknya perbedaan yang kuat dan yang lemah itu ada 15 hari 15 malam.

Contoh :
Perempuan mengeluarkan darah itu 3 hari haid kebiasaanya, Kemudian pada suatu saat dia mengeluarkan darah sebanyak 21 hari tidak berhenti sama sekali maka ternyata yang keluar itu 19 hari itu darah lemah kemudian 2 hari darah kuat jadi dari 21 hari ini 19 harinya darah lemah kemudian darah kuat itu hanya 2 hari yang belakang maka cara menghitung haidnya itu 3 hari awal menurut menyesuaikan kebiasaannya dan 2 hari akhir yang darah kuat yang dikeluarkan.

Jadi yang dihitung haid itu 5 hari 3 hari pertama karenanya menyesuaikan dari kebiasaannya dan 2 hari akhir karena darah lemahnya itu lebih dari 15 hari 15 malam perbedaannya maka yang digunakan adalah menggunakan hukum gabungan antara kebiasaannya dulu 3 hari dan yang akhir 2 hari jadi haidnya dihitung 5 hari.
Adapun istihadhohnya yaitu 16 hari. Jadi kalau dia belum melakukan salat saat itu berarti selama 16 hari tersebut harus diganti.
Kalaupun tidak memenuhi syarat syarat tersebut nanti bisa dikelompokkan ke kelompok ke 4, ke 5, ke 6 atau ke 7 sesuai dengan persoalannya.

Mu’tadah ghairu mumayyizah dzakiratun li’atadiha qadran wa waqtan.
Yaitu wanita istihadhoh yang pernah haid dan suci, darahnya hanya satu macam, serta wanita yang bersankutan ingat akan ukuran waktu haid dn suci yang menjadi kebiasaanya.

Mu’tadah ghairu mumayyizah nasiyah li adatiha qadrah wa waqtan (mutahayyirah).
Yaitu wanita istihadhoh yang pernah haid dan suci, darahnya hanya satu macam, dan ia tidak ingat/mengerti akan ukuran serta waktu kebiasaanya haidnya.


Mu’tadah ghairu mumayyizah nasiyah li adatiha qadrah wa waqtan (mutahayyirah bin nisbati liwaqtil aadhah).
Yaitu wanita istihadhoh yang pernah haid dan suci, darahnya hanya satu macam dan ia hanya ingat pada banyak sedikitnya haid yang menjadi kebiasaanya,namun ia tidak ingat waktunya.
Mu’tadah ghairu mumayyizah az zakirah li adatiha waqtan laa qadran/mutahayyirah bin nisbati liqadril aadah.
Yaitu wanita istihadhoh yang pernah haid dan suci, darahnya hanya satu atau tidak bisa membedakan darah, dan ia ingat akan waktu haid adanya, tetapi tidak ingat banyak sedikitnya.
Ketujuh macam mustahdhoh tersebut apabila lebih dari 15 hari 15 malam, maka kalau ada seseorang yang mengalami hal seperti itu maka anda bisa merujuk pada posisi dari salah satu tujuh itu yang mana yang sesuai.

Tetapi dari setiap individu mempunyai ketentuan-ketentuan yang berbeda sesuai dengan kondisi masing-masing. Tetapi jika kalian tidak lebih dari 15 hari 15 malam dalam mengeluarkan darah hukum 7 ini yang terjadi mustahabah yang semacam ini tidak menjadi pemikiran atau tidak perlu di buat susah haid nya karena itu meruapakan haid yang normal..

Ini tadi penjelasan tentang macam-macam darah dan sifatnya untuk membedakan mana darah kuat dan darah lemah serta kita bahas tentang mustahadah yang baru selesai sampai 3 jadi baru membahas tentang mubtada’ah mumayyizah maupun mubtadaah ghairu mumayyizah. Semoga bisa difahami lebih dahulu sebelum nanti kita lanjutkan untuk pembahasan selanjutnya yang ke 4 5 6 7 dan tentunya itu akan lebih rumit lagi karena kasus banyak bisa bermacam-macam contoh di situ tapi berdoa semoga kita semua tidak mengalami hal-hal yang diluar dari normal.

Ketika haid maupun nifas wallahualam

SESI TANYA JAWAB

GRUP 1
PERTANYAAN
Kasus: orang yang baru saja mengetahui tentang masalah haidz, sholat-sholat yang harus di qodo’, jadi sebelumya belum tahu tentang permasalahan haidz sebelum mengikuti kajian ini. Jadi bagaimanakah cara mengqodo’ sholat yang tak terhitung dan tertinggal saat dia haidz dulu?

JAWABAN
Caranya adalah dengan menghitung berapa tahun sudah mengalami haidz, dalam satu bulan berapa kali, dan kebiasaan mengeluarkan darah haidz itu kapan, soalnya kebiasaan haidz tiap orang berbeda-beda. Cara ini dapat kita lakukan untuk menghitung berapa banyat sholat yang harus diqodo’.
Misal:kebiasaan keluar darah haidz di waktu shubuh, maka otomatis sholat shubuhnya harus di qodho’ dan suci di waktu isya’.
Contoh di atas dapat dijadikan pedoman, tapi setiap orang kan berbeda kebiasaannya jadi harus bisa mengerti kebiasaannya kapan mengeluarkan darah haidz agar bisa menjadi pedoman untuk memperkirakan sholat apa yang telah ditinggalkan dan sholat yang harus diqodho’. Jadi bisa diqodho’ sedikit demi sedikit, agar tidak repot untuk menqodo’ sholat maka ikutkan pada setiap sholat yang akan dikerjakan, tapi sebelumya harus dihitung kira-kira berapa jumlah sholat yang harus diqodho’.

PERTANYAAN
Penjelasan mustahadhoh 5, apakah seseorang yang mengalami hal tersebut (darahnya hanya satu macam, tidak mengerti kebiasaan haidznya) ketika istihadhoh harus mandi besar?

JAWABAN
Tentang mustahadhoh 5 memang sangat rumit dan membingungkan karena tidak mengetahui kebiasaan haidznya, sehingga mendapat kewajiban untuk berhati-hati yaitu tidak diperbolehkan melakukan hubungan suami istri, tidak boleh membaca al-Quran di lain waktu sholat jadi hukumnya seperti orang haidz, dan wajib melakukan sholat dan puasa seperti orang suci, jadi hukumnya ada dua. Ketika memang benar-benar tidak mengetahui waktu kebiasaan haidz, maka mempunyai kewajiban ketika hendak melakukan sholat harus mandi tetapi jika masih ada ingat waktu berhentinya darah, maka melakukan mandi hanya di waktu berhenti darah haidz tersebut, mustahadhoh ke-5 ini memang sangat berat. Penjelesan serta contoh mustadhoh ke-5 akan dijelaskan lebih rinci pada season berikutnya.

PERTANYAAN
Kasus: orang awam yang tidak mengetahui tentang permasalahan haidz dan tidak mau tahu tentang haidz karena menganggap rumit. Jadi bagaimanakah yang harus dilakukan oleh orang yang sudah mengetahui tentang haidz tapi tetap tidak dihiraukan oleh orang awam tersebut?
JAWABAN
Orang yang sudah mengetahui permasalahan haidz wajib untuk memberi pengetahuan kepada orang awam meskipun tidak dihiraukan, dengan cara pendekatan dan memberikan edukasi bahwa permasalahan haidz sangat dibutuhkan dan harus dijalankan karena ini menyangkut tentang ibadah. Meskipun ada hukum mazhab imam maliki yang mengatakan bahwa darah yang keluar adalah haidz tidak ada pembagiannya, tidak seperti imam syafi’i yang sangat teliti dalam membuat hukum.

PERTANYAAN
Bagaimana hukumnya mengenai menstrual cup (alat terbaru untuk pengganti pembalut yang dimasukkan di dalam tidak diluar seperti softex) bagi wanita yang belum menikah?
JAWABAN
Hukumnya boleh saja memakai menstrual cup, asalkan tujuan alat tersebut memang seperti pembalut tetapi jika untuk menahan darah haid yang ada didalam agar tidak keluar, maka itu tidak boleh. Apalagi bagi wanita yang belum menikah dikhawatirkan dapat merusak bagian vaginanya, untuk lebih jelasnya harus tanya kepada dokter tentang kegunaan dan efek samping dari menstrual cup tersebut.

PERTANYAAN
Kasus: seorang ibu sebelum meninggal mempunyai hutang puasa 20 hari karena haidh dan istihadhoh, sholatnya tidak punya hutang tetapi belum sempat untuk menqodho’puasanya sudah meninggal. Lalu kewajiban seorang anak harus bagaimana? Apakah boleh di qodho’kan puasa oleh anaknya?
JAWABAN
Kewajiban seorang anak bisa dengan membayar fidyah untuk ganti puasa, tetapi jika seorang anak ingin mengqodho’kan puasanya juga diperbolehkan.

GRUP 2
PERTANYAAN
Bagaimana hukumnya jika seseorg mengalami istihadloh tetapi karena adanya sesuatu yg masuk pada tubuhnya? Seperti karena KB atau obat lain yang mengakibatkan terjadinya istihadloh ?
JAWABAN
Lebih baik jika sifatnya hormonal tidak sesuai diganti dengan KB yg tidak merusak siklus itu sendiri. Menghukumnya yaitu menggunakan hukum mustahadloh yg rumit, Pil Kb, suntik dll itu bisa jadi terjadi gangguan hormonal.

PERTANYAAN
bagaimana caranya ketika akan menunaikan sholat orang yg istihadloh ?apakah cukup dgn ganti pembalut saja?
JAWABAN
Jika hendak sholat itu dibersihkan terlebih dahulu ganti pembalut/ bisa memakai kapas agar darah tidak sampai ke mana-mana dan wudhunya itu hanya untuk 1 kali sholat fardhu dan beberapa kali sholat sunnah dan juga wudhunya harus sudah masuk waktu sholat setelah wudhu harus sesegera mungkin melaksanakan sholat.

PERTANYAAN
Ketika istihadzoh ,hendak melksanakan solat,kan terlebih dhulu bebersih,trmasuk memasukan kapas kdalamnya(atau mnyumpeli bhsa kasarnya) ,jika setelah sholat mau berganti trnyata darah sampai tembus ke kapsnya itu bgaimana?sah atau tidak solatnya?
JAWABAN
Tetap sah karena setelah kapas itu di kasih pembalut agar tidak tembus sampai celana dan tidak mengotori tempat sholat.

PERTANYAAN
Akibat KB, haid selama 15 hari, hari ke 16 bersihh suci hari keq7 sore ngelek coklat apakah itu termasuk istihadloh?? Kalo istihadloh harus dg warna darah yg merah cerah/segar atau gimana?
JAWABAN
Hari ke 17 itu termasuk darah istihadloh karena maksimal haid itu 15 hari 15 malam jadi kalo lebih dari itu termasuk darah istihadloh

Penulis :

Aulia Masrurina Dewi – Easy Al-Qoyum – Divisi Tahfidz