Oleh :

Nurul Mardhiah

(Pengurus Divisi Tafsir)


Semua orang tentu bergembira menyambut hari raya, terlebih hari raya Idul Fitri. Setelah melaksanakan puasa Ramadhan selama satu bulan penuh, berusaha yang terbaik untuk mendapatkan keutamaan Ramadhan dan meminta ampunan kepada Allah Yang Maha Penerima Taubat. Suasana hari raya mulai terasa sejak hari terakhir puasa wajib tersebut. Orang-orang mulai ziarah kubur, mengunjungi orang tua, mudik, menyiapkan makanan ataupun jajanan sanak-kerabat dan tetangga, tak ketinggalan pula menyiapkan baju terbaik yang kita punya. Hari raya yang penuh suka cita itu juga menjadi kesempatan khusus untuk meminta maaf dan mempererat bersilaturahmi kepada sesama saudara muslim, tak menutup kemungkinan kepada saudara nonmuslim juga.

Lalu apa keutamaan dari menyambut Hari Raya? Bagaimana cara menyambut Hari Raya agar mendapat keutamaannya?

Divisi Tafsir UKM JQH Al-Wustha telah mengadakan diskusi tematik online yang diikuti seluruh anggota bersama narasumber Subhan Askhabi ( Ketua Umum JQH Al-Wustha 2019 ) dengan dipandu oleh Taufan Rahsobudi ( Pengurus Divisi Tafsir 2020 ).

Diskusi kali ini merupakan bentuk perhatian kepada hari raya Idul Fitri. Hari raya Idul Fitri punya makna tersendiri bagi umat mukmin. Setiap bulan islam punya keistimewaannya masing-masing juga punya amalan untuk meraih keistimewaannya tersebut.

Keutamaan Idul Fitri salah satunya adalah kita menjadi seperti dilahirkan kembali. Bukan jadi bayi, tapi seperti bayi yang dilahirkan kembali yang belum mempunyai dosa. Setelah kita meraih keutamaan bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Bahkan kita termasuk orang yang merugi apabila meninggalkan bulan suci Ramadhan tanpa berusaha melebur dosa kita. Maka dari itu, pada hari raya ini yang juga disebut sebagai hari kemenangan karena telah menahan diri dari hawa nafsu dan selalu mengharap ridho serta ampunan Allah Azza Wa Jalla.

Keutamaan lainnya ialah hendaknya kita bergembira atas datangnya hari raya Idul Fitri. Berbahagia dan mensyukurinya, bukan dengan niat menghambur-hamburkan uang. Mensyukuri nikmat dari-Nya ada banyak bentuknya, misal dengan membelanjakan uang kita untuk menyenangkan keluarga, memuliakan tamu, memberi hibah pada sanak kerabat.

Dan bagaimana kita menyambut kebahagiaan Idul Fitri? Walaupun kita juga sedih karena bulan Ramadhan juga sudah di ujungnya.

Jadi, kita menyambut idul fitri dengan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Menghabiskan waktu akhir Ramadhan dengan hal-hal yang lebih bermanfaat dan lebih baik lagi seperti mengharap dapat malam lailatul qadar. Ada banyak hadist juga yang menerangkan bahwasanya Rasulullah beribadah lebih dari biasanya.
  2. Hendaknya menghidupkan malam Idul Fitri dengan melakukan hal-hal kebaikan juga seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an dan disunnahkan mengumandangkan takbir. Mengenai mengumandangkan takbir ini, merupakan salah satu amalan yang membuat hari raya lebaran lebih istimewa. Malam itu kumandang takbir mulai bersahutan dari maghrib hingga pagi, bahkan sampai beberapa hari kebelakang masih terdengar kumandang takbir.
  3. Menghidupkan malam 2 hari raya paling tidak dengan sholat sunnah ba’diyah isya’ dan ditambah solat sunnah witir. Semalas-malasnya santri/mahasiswa jangan sampai meninggalkannya, supaya hatinya tidak mati disaat banyak hati yang mati. Ada banyak hal-hal baik yang dapat kita lakukan dalam menghidupkan malam hari raya, seperti hal tersebut. Dalam hadist Irsyadul β€˜Ibad menyebutkan bahwa, β€œBarangsiapa menghidupkan malam dua hari raya maka Allah sksn menghidupkan hatinya saat hati orang-orang mati.” Walupaun hadist tersebut ada yang mengatakan dhaif, namun tidak seharusnya hadist dhaif itu ditolak mentah-mentah. Ada yang berpendapat boleh karena sifatnya hadist ini adalah fadhilah atau keutamaan. Agar dapat memotivasi dalam menghidupkan malam dua hari raya.
  4. Memakan sesuatu sebelum melaksanakan sholat β€˜Id, lebih utama memakan makanan yang manis. Hari raya Idul Fitri, dengan kata fitri bisa diartikan menjadi berbuka,sehingga kita hari dimana berbuka kembali. Rasullah biasanya sebelum melaksankan sholat β€˜Id pada pagi hari, beliau memakan kurma terlebih dahulu. Hal ini menjadi keutamaan juga, karena hal ini berkebalikan dari hari raya Idul Adha yang menyunnahkan makan setelah melaksanakan sholat β€˜Id.

Ada banyak lagi hal sunnah yang bisa kita isi di hari raya ini, hal yang kecil dan sunnah namun pahalanya cukup besar pula jika dilakukan oleh umat muslim. Apalagi zaman sekarang dengan zaman para sahabat dan tabi’in tentu sudah sangat berbeda.

Bisa dilihat dari kacamata sosial pun orang zaman sekarang ketegori melaksanakan ibadah itu banyak yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja, dan ketika Mbah Manab Lirboyo mengibarohkan hal yang sunnah pun beliau juga melihat kondisi orang-orang zaman sekarang dan juga mudah dilakukan.

Maka dari itu, mari kita lakukan hal-hal kebaikan sekecil apapun itu dan semampu kita untuk menyambut hari raya maupun pada kehidupan sehari-hari. Karena kita tidak tahu hal apa yang dapat membawa kita ke surga, maka lakukanlah kebaikan walau sekecil apapun itu.

Notulis: Nurul Mardhiyah- divisi Tafsir