Minggu (18/07) UKM JQH Al-Wustha mengadakan kajian spesial Idul Adha 1442 H dengan tema “Esensi Makna Qurban sebagai Cerminan dalam Menghadapi Cobaan”. Kajian tersebut diisi oleh penasihat UKM JQH Al-Wustha sekaligus dosen fakultas syariah IAIN Surakarta yaitu Bapak Sulhani Hermawan, M.Ag. Kajian ini dilaksanakan secara daring melalui google meet. Kajian ini diadakan sebagai salah satu upaya untuk memotivasi mahasiswa pada khususnya dalam menghadapi berbagai musibah di masa pandemi terlebih dalam keadaan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Meskipun PPKM namun kita harus tetap semangat dan bahagia dalam menyambut lebaran qurban.
Berbagai ilmu dan motivasi disampaikan oleh Bapak Sulhani. Dimana mahasiswa harus tetap mematuhi peraturan pemerintah. Melalukan saring sebelum sharing terhadap berita-berita yang ada. Menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya saja tidak boleh apa lagi menyebarkan fitnah. Mahasiswa harus cerdas dalam menanggapi berbagai berita dan aturan yang ada. Tidak membentur-benturkan antara syariat dengan peraturan pemerintah. Selain itu makna qurban disampaikan oleh beliau dengan menyebutkan dan menjelaskan dalil-dalilnya secara gamblang dalam forum kajian.
Tradisi qurban mulanya dari Nabi Ibrahim as yang dalam mimpinya ia menyembelih anaknya, Nabi Ismail as. Nabi Ibrahim as menyampaikan pesan dalam mimpinya itu kepada anak lelakinya, dan anaknya pun menyanggupi apa yang telah diperintahkan kepada ayahnya melalui mimpi. Ketika kedua nya sudah berserah diri kepada Allah SWT, Ismail as pun sudah mulai berbaring untuk di sembelih dan Allah pun mengganti Ismail dengan seekor kambing yang besar. Peristiwa inilah yang melatarbelakangi di lakukan nya Qurban di hari raya haji.
Pelaksanaan Qurban ditengah-tengah masyarakat sangat beragam, ada yang menyembelih bersama-sama hingga pembagian daging. Bahkan daging Qurban juga ada yg dibuat sate, ketika acara kumpul bersama teman atau keluarga. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai Qurban, penting bagi kita mengetahui pengertian Qurban terlebih dahulu. Qurban bersal dari Bahasa arab Qaruba-Yaqrubu-Qarban wa Qurbanan yang artinya dekat, ΨΆΩŽΨ­Ω‘ΩŽΩ‰ – ΩŠΩΨΆΩŽΨ­ΩΩ‰ – Ψ§Ω„Ψ£ΩΨΆΩ’Ψ­ΩΩŠΩŽΨ©Ω – Ψ§Ω„Ψ£ΩŽΨΆΨ§ΩŽΨ­ΩΩ‰ – Ψ§Ω„ΨΆΩ‘ΩŽΨ­ΩŽΨ§ΩŠΨ§ΩŽ yang artinya nama binatang sembelihan atau binatang ternak yang dipakai sebagai qurban pada hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ω†ΩŽΨ­ΩŽΨ±ΩŽ – ΩŠΩŽΩ†Ω’Ψ­ΩŽΨ±Ω – Ψ§Ω„Ω†Ω‘ΩŽΨ­Ω’Ψ±Ω yang artinya penyembelihan hewan (qurban).
Sejarah syariat Qurban yang di riwayatkan oleh Imam Ibn Majah dalam Sunan Ibn Majah Kitab al-Adhahiy No. 3127, yang berbunyi β€œPara Sahabat bertanya kepada Rasullah saw, β€œWahai Rasulullah, apakah qurban itu?” Rasulullah saw menjawab, β€œItu adalah sunnah yang dilakukan ayah kalian semua Ibrahim as.” Para sahabat bertanya lagi, β€œApakah keuntungan Qurban bagi kita, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, β€œPada setiap helainya terdapat satu kebaikan (pahala).” para sahabat bertanya lagi, β€œbulu-bulunya wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, β€œPada setiap helai bulu-bulunya terdapat satu kebaikan (pahala).”
Ibadah qurban mulai disyariatkan kepada umat Islam pada tahun kedua Hijriyah, seiring dengan syariat dua hari raya (Idul fitri dan Idul Adha), zakat mal dan zakat fitrah. Hukumnya sunnah muakkadah (meski ada juga yang mengatakan wajib) yang bersifat kifayah. Apabila jumlah orang dalam satu keluarga banyak, maka jika salah satu dari mereka sudah menjalankannya maka sudah mencukupi untuk semuanya jika tidak, maka menjadi sunnah ain. (Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi asy-Syuja’, Bairut-Maktab al-Buhuts wa ad-Dirasat, tt, juz, 2, h. 588). Oleh karena itu Qurban mempunyai hokum dan dasar syariatnya sendiri. Diantaranya hokum Qurban, pertama, pada surat al-Kautsar ayat 2 yang artinya Maka shalatlah kepada Tuhanmu dan berQurbanlah.

Kedua, dalam surat al-Hajj ayat 36-37 yang artinya (36) dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur. (37) Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik).
Ketiga, pada Hadits Riwayat Ibn Hibban (didukung oleh riwayat Bukhari, Muslim att-Turmudzi dll. Yang berbunyi, β€œNabi berqurban dengan dua ekor kambing berwarna putih kehitam-hitaman an bertanduk. Beliau menyebut Asma Allah dan bertakbir serta aku (Anas bin Malik) sungguh melihat beliau menyembelih dengan dua tangan beliau sendiri.” Keempat, dalam Hadits Riwayat ad-Daru Quthniy (didukung oleh bbrp riwayat dari Ahmad bin Hanbal, Bayhaqi, al-Hakim, Ibn Abi Syaibah, dan keterangan Ibn Hajar dalam Fathul Bari, yang berbunyi β€œBarangsiapa memiliki kemampuan untuk berqurban dan tidak menunaikannya, maka janganlah mendekat tempat shalat kami.” Dsb.
Adapun kriteria jenis-jenis hewan yang dapat digunakan untuk berqurban, diantaranya unta, sapi atau kerbau dan kambing atau domba, berdasarkan Hadits Riwayat Muslim dari Jabir dlm Sahih Muslim kitab al-Adhahi. Unta dan Sapi (kerbau) bisa digunakan untuk 7 orang dan kambing atau domba untuk 1 orang. Jadi tidak semua hewan dapat digunakan untuk berQurban ya,,. Selain kriteria hewan yang dapat digunakan untuk berQurban, ada juga hewan yang tidak boleh digunakan untuk berQurban yaitu hewan yang jelas-jelas berpenyakit, picak salah satu atau kedua matanya, pincang salah satu atau lebih kakinya, kurus dan tidak bergajih, cacat yang bersifat abadi (telinganya terpotong) dan buntung ekornya. Sedangkan hewan yang dikebiri atau yang tanduknya pecah bisa dipergunakan untuk qurban. Oleh karenanya, hewan utama dan bisa yang dipakai untuk berqurban adalah hewan yang baik-baik, sehat, gemuk, tidak terdapat cacat, dan tidak berpenyakit.
Penyembelihan hewan Qurban juga tidak dilakukan denga nasal, tetapi ada syarat-syarat yang harus dilengkapi terdahulu seperti : yang menyembelih haruslah orang Islam; binatang yang disembelih bukan hasil berburu ditanah haram (Mekkah dan Madinah); menyebut nama Allah (misalkan lupa, penyembelihannya tetap sah namun jadi makruh) dan tidak menyebut selain asma Allah; alat yang digunakan untuk menyembelih haruslah tajam, baik dari besi, bambu dsb terkecuali dari gigi, kuku, dan tulang; menyembelih harus putus halqum dan mari’ (jalan makanan dan jalan pernafasan) di leher binatang.
Penyembelihan hewan Qurban tidak dilakukan setiap waktu, ada ketentuan waktu penyembelihan Qurban ketika hari raya Idul Adha (Idul Qurban, 10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah), dilakukan mulai setelah Shalat Idul Adha sampai terbenamnya matahari tanggal 13 Dzulhijjah.
Adapun sunah-sunah ketika menyembelih hewan Qurban, diantaranya
Membaca Basmallah
Membaca Sholawat Nabi
Membaca Takbir
Berdoa supaya qurbannya diterima Allah SWT
Menyembelih sendiri atau menyaksikan penyembelihan kalau diwakilkan (menyembelih di malam hari hukumnya makruh)
Menghadap kiblat dan menghadapkan hewan qurban ke arah qiblat (makruh hukumnya tidak menghadap kiblat).
Menajamkan mata pedang atau pisau atau alat yang digunakan untuk menyembelih (kalau sampai kepala hewan terpisah ketika menyembelih atau memotong bagian-bagian hewan qurban dan mencabuti bulu-bulunya sebelum hewan benar-benar mati, maka menjadi makruh).

Pembagian Qurban ada dua macam antara lain, Qurban Nadzar dan Qurban Wajib (misalnya qurban membayar dam hajji) hukumnya haram dimakan dan dikonsumsi oleh yang berqurban. Qurban Sunnah diperbolehkan bagi yang berqurban untuk memakannya sebagian. Al-Ghazali menyatakan bahwa menyedekahkan semua adalah lebih utama. Sebagian ulama berpendapat sepertiga dimakan sendiri, sepertiga disedekahkan dan sepertiga dihadiahkan. Dasar hukumnya terdapat pada surat al Hajj ayat 25 dan 36, dan juga terdapat pada hadits Imam Malik. Terlebih di masa pandemi seperti saat ini hubungan sesama manusia hendaknya dipererat kembali walau dengan terbatasnya jarak jangan sampai memutus tali silaturahmi. Alangkah mulianya jika momen Idul Adha kali ini bisa digunakan untuk memberi senyum kepada tetangga yang lebih terdampak akan adanya pandemi ini terutama dalam aspek finansial yang berujung kepada kebutuhan primer yakni pangan.
Daging Qurban bagi orang yang berqurban tidak diperkenankan untuk menjual, ntah itu dagingnya maupun kulitnya yang disembelih, meskipun untuk biaya penyembelihan (ongkos tukang jagal dan sebagainya). Panitia qurban yang dibentuk selama ini merupakan kepanjangan tangan dari pihak yang berqurban (wakil), maka hukum yang sama juga diberlakukan kepadanya, artinya daging qurban boleh dipergunakan untuk makan siang dan panitia tidak diperbolehkan menjual daging sembelihan meskipun hanya untuk membeli bumbu. Dasar Hukumnya terdapat pada Hadits riwayat Ahmad.

Asyrofatul Munawaroh
Sumber: Sulhani Hermawan, M.Ag.