Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan peringatan yang secara luas dirayakan di seluruh dunia termasuk Indonesia.Pada bulan ini tepatnya tanggal 19 Oktober 2021 bertepatan dengan Hari Besar Islam yaitu peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang biasanya diperingati pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal pada penganggalan hijriyah.Peringatan Maulid Nabi ini adalah hari untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Secara etimologi, istilah β€œMaulid” berasal dari Bahasa Arab β€œwalada-yulidu-wiladan” yang berarti kelahiran. Kata Maulid ini biasanya disandingkan dengan Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi ini dirayakan sebagai bentuk untuk mengingat, menghayati, dan memuliakan kelahiran Rasulullah SAW. Hal tersebut masih tetap berjalan walaupun sampai saat ini masih ada kontroversi tentang peringatan Maulid Nabi tersebut di beberapa kalangan ulama menganggap hal tersebut merupakan bid’ah.Tetapi maulid nabi ini masih diperingati secara luas di seluruh dunia termasuk tradisi budaya Indonesia.

Sejarah Maulid Nabi

Awal munculnya tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW mempunyai 3 pendapat menurut sejarah. Pertama, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diadakan oleh khalifah Mu’iz li Dinillah. Beliau merupakan khalifah di dinasti Fatimiyyah Mesir yang ada pada 341 Hijriyah yang lalu. Kemudian perayaan Maulid Nabi tersebut dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir Al-Juyusy dan kembali ada pada masa Amir li Akhmillah tahun 524 hijriyah.

Pendapat yang kedua, dikatakan bahwa Maulid Nabi diadakan oleh khalifah Mudhaffar Abu Said pada tahun 630 H yang diadakan besar-besaran saat itu. Aasan diadakannya maulid nabi pada saat itu, karena khalifah Mudhaffar sedang berusaha menyelamatkan negerinya dari kekejaman raja Mongol yang Bernama Jengiz Khan. Khalifah Mudhaffar ini mengadakan acara peringatan Maulid Nabi dengan mengundang para orator untuk menghidupkan semangat kepahlawanan bagi kaum muslimin untuk menjadi benteng yang kokoh dalam agama Islam.

Pendapat yang ketiga, maulid nabi pertama kali diadakan oleh Salahuddin.Tujuannya semangat juang para kaum muslimin harus dihidupkan Kembali dengan cara mempertebal dan meningktan rasa kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Salahuddin menghimbau agar umat Islam di seluruh dunia untuk memperingati hal tersebut.

Tradisi Maulid Nabi di Indonesia

Di Indonesia sendiri, perayaan maulid nabi disahkan negara sebagai hari besar islam dan hari libur nasional. Biasanya di Indonesia, acara peringatan Maulid Nabi ini diadakan di masjid-masjid, surau-surau, pondok pesantren dan sekolah pun kini ikut merayakan hal tersebut. Acara maulid diisi dengan pengajian dan pembacaan sholawat al barzanji. Pada malam pucaknya, biasanya membaca sirah nabawiyah atau sejarah lahirnya nabi sampai wafatnya Nabi Muhammad SAW dalam bentuk prosa dan kadang juga disampaikan dengan bentuk lagu.

Masyarakat daerah biasanya mempunyai cara tersendiri untuk memperingati hal tersebut di daerah Surakarta dan Yogyakarta sendiri misalnya, biasanya diadakan acara sekaten. Sekaten merupakan rangkaian kegiatan tahunan yang dijadikan sebagai peringatan Maulid Nabi SAW dan ditutup dengan acara Grebeg Maulid pada tanggal 12 Rabiul Awal. Tradisi Jawa yang biasanya dilakukan oleh masyarakat tertentu adalah ritual memandikan benda-benda Pustaka atau keramat yang biasanya berbentuk keris,tombak dan yang lainnya. Di daerah Kudus, ada juga acara tersendiri untuk memperingati maulid nabi yaitu dengan β€œampyang”. Am pyang maulid ini merupakan acara untuk memperingati maulid dengan menyajikan banyak makanan yang dihiasi dengan krupuk yang diarak keliling desa sebelum masuk masjid di desa setempat.

Nilai-nilai Pendidikan Islam dan Hikmah Memperingati Maulid Nabi

Secara umum, ada banyak sekali nilai- nilai atau sesuatu yang berharga pada pribadi dan kehidupan nabi Muhammad SAW, mengingat beliau adalah insan yang sangat komplek, dalam bidang politik, perekonomian, perjuangan serta kepribadian dan akhlak. Pertama, meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bagi seorang mukmin, kecintaan terhadap Rasulullah SAW adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan. Kedua, meneladani perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW.dalam setiap gerak kehidupan kita. Sebagai umat islam memang seharusnya mencontoh dan meneladani perilaku nabi Muhammad SAW. Setidaknya ada 4 sifat nabi yang dapat kita teladani yaitu shidiq, amanah, tabligh, dan fatonah.

Meneladani perilaku, perbuatan dan sifat Nabi Muhammad SAW bagi kaum milenial seperti kita merupakan hal yang wajib agar kita dapat tumbuh menjadi pemuda-pemudi hebat. Ketiga, melestarikan ajaran dan misi perjuangan Rasulullah, dan juga para Nabi. Sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir, Rasul meninggalkan pesan pada umat yang amat dicintainya ini agar tetap berjuang di jalan Allah dan tetap berpegang teguh pada Al Quran. Jadikan moment peringatan Maulid Nabi ini menjadi ajang untuk memperbaiki akhlak dan menambah keimanan kita kepada Allah karena sebagaimana kita tahu bahwa Nabi Muhammad merupakan rahmat bagi alam semesta yang Allah turunkan untuk kita.

Referensi:
Moch. Yunus, “Peringatan Maulid Nabi (Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di Indonesia)”. Jurnal Humanistika Vol. 5, No. 2 (2019): 35.
Musohihul Hasan, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Maulid Nabi Muhammad SAW”. Jurnal Al-Insyirah, Vol 1 (2015): 214.
AM. Waskito, ”Pro dan Kontra Maulid Nabi” (Jakarta Timur: Pustaka Al Kautsar, 2014), hlm. 23.

Fatma Syifa’ Nabila Auliarahman